ALAT SUPER CANGGIH PENGONTROL MASSA


Sudah cukup lama juga gak pernah posting tulisan, sebetulnya sudah sangat kangen tapi begitulah ternyata aktifitas semakin padat.. ahh sudahlah mudah-mudahan di waktu yang sempit ini saya bisa mencurahkan sedikit tentang sesuatu yang mungkin ini juga baru anda alami dan baru anda sadari…

Headline di atas keren juga ya he… satu bulan terakhir ini benar-benar menyita hampir seluruh media informasi baik media elektronik maupun cetak menjadikan pemberitaan PILPRES dan CAPRES menjadi berita utama, bahkan situs jejaring sosial pun tak kalah gesitnya bisa dibilang lebih heboh dari situs berita yang mana pemberitaannya hanya menyajikan info satu arah sedangkan di media sosial siapapun bisa berkata dan berkomentar sesuai kehendaknya.

bahaya mediaTapi yang menjadi catatan saya kali ini adalah tentang “PERAN MEDIA SEBAGAI ALAT KONTROL MANUSIA” disadari atau tidak konpirasi media sungguh sangat luar biasa dalam mengontrol pola kehidupan manusia tentunya mereka itu adalah para konsumen media tersebut. Bahkan pola pikir mereka benar-benar dalam kendali sesuai kehendak dari si empunya / pemilik media tersebut.

Tidak kah kita berpikir bahwa  ketika sebuah info diberitakan dan diterima oleh kita dalam durasi / jangka waktu tertentu maka kita akan mudah mengingatnya bahkan mungkin saking seringnya info itu kita dengar maka info atau berita yang sama menjadi hal biasa dan mudah kita ingat bahkan mungkin kadang kita pun latah mengikutinya.

Yang lebih ekstrim lagi, bisakah kita membayangkan jika info itu setiap waktu, setiap saat, bahkan mungkin setiap detik di ulang dan di ulang dari media yang sama atau darai media satu ke yang lainnya hingga seakan tidak ada ruang lain selain hal itu yang harus kita terima, terkesan ada pemaksaan penanaman dalam memori kita dimana ketika kita tidak mau-pun hal ini harus masuk kedalam otak kita. Sepertinya inilah salah satu cara mereka menanamkan chip kontrol pada kita.

Sebenernya saya merasa lucu dengan beberapa media baik elektronik atau cetak ketika kampanye capres kemarin. Dimana masing-masing media memberitakan tentang apapun yang dilakukan sang kandidat jagoannya bahkan kalo dibilang mungkin gaya mandinya pun dikabarin wk..wk..

Hal ini tidak lain mereka (baca:media) sedang berusaha menanamkan pada konsumen media tersebut  sebagaimana yang dikehendaki media tersebut, dan hasilnya luar biasa ..!!

Baca lebih lanjut

SEJARAH, ASAL USUL & PENGERTIAN DEMOKRASI…


demokrasi 2

Sejarah Asal Usul Demokrasi

DEMOKRASI adalah bentuk pemerintahan yang semua warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka (notes: mendahului Allah dlm perkara ghaib yg pada hakikatnya belum diketahui padahal walaupun nyoblos belum tentu nasibnya berubah jadi lebih baik). Demokrasi mengizinkan warga negara berpartisipasi—baik secara langsung atau melalui perwakilan—dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum (notes: prostitusi dan judi juga boleh asal menghasilkan devisa dan dilakukan di tempat tertentu bodo amat walaupun Allah mengharamkannya). Demokrasi mencakup kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang memungkinkan adanya praktik kebebasan politik secara bebas dan setara yang berlandaskan azas Hak Azasi Manusia.

DEMOKRASI berasal dari bahasa Yunani δημοκρατία (dēmokratía) “kekuasaan rakyat”, yang terbentuk dari δῆμος (dêmos) “rakyat” dan κράτος (kratos) “kekuatan” atau “kekuasaan” pada abad ke-5 SM untuk menyebut sistem politik negara-kota Yunani, salah satunya Athena; kata ini merupakan antonim dari ἀριστοκρατία (aristocratie) “kekuasaan elit”. Secara teoretis, kedua definisi tersebut saling bertentangan, namun kenyataannya sudah tidak jelas lagi.

Di semua pemerintahan demokrasi sepanjang sejarah kuno dan modern, kewarganegaraan demokratis tetap ditempati kaum elit sampai semua penduduk dewasa di sebagian besar negara demokrasi modern benar-benar bebas setelah perjuangan gerakan hak suara pada abad ke-19 dan 20. Kata demokrasi (democracy) sendiri sudah ada sejak abad ke-16 dan berasal dari bahasa Perancis Pertengahan dan Latin Pertengahan lama. (Notes: katanya siy gak boleh tasyabuh / meniru-niru orang kafir haram jangankan dalam masalah akidah / keyakinan bahkan hanya meniru tingkah laku dan pakaian saja tidak boleh… lah kok bisa ya kalo dalam menjalankan hukum dengan demokrasi..??)

Kata “DEMOKRASI” pertama muncul pada mazhab politik dan filsafat Yunani kuno (notes: katanya juga gak boleh belajar filsafat karena sesat … btw pemahamannya malah juga di adopsi) di negara-kota Athena. Dipimpin oleh Cleisthenes, warga Athena mendirikan negara yang umum dianggap sebagai negara demokrasi pertama pada tahun 508-507 SM. Cleisthenes disebut sebagai “bapak demokrasi Athena.”[8]

Pengertian Demokrasi Menurut Para Ahli Demokrasi

Abraham Lincoln

Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Charles Costello

Demokrasi adalah sistem sosial dan politik pemerintahan diri dengan kekuasaan-kekuasaan pemerintah yang dibatasi hukum dan kebiasaan untuk melindungi hak-hak perorangan warga negara.

John L. Esposito

Demokrasi pada dasarnya adalah kekuasaan dari dan untuk rakyat. Oleh karenanya, semuanya berhak untuk berpartisipasi, baik terlibat aktif maupun mengontrol kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Selain itu, tentu saja lembaga resmi pemerintah terdapat pemisahan yang jelas antara unsur eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.

Hans Kelsen

Demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat dan untuk rakyat. Yang melaksanakan kekuasaan Negara ialah wakil-wakil rakyat yang terpilih. Dimana rakyat telah yakin, bahwa segala kehendak dan kepentingannya akan diperhatikan di dalam melaksanakan kekuasaan Negara.

Sidney Hook

Demokrasi adalah bentuk pemerintahan dimana keputusan-keputusan pemerintah yang penting secara langsung atau tidak didasarkan pada kesepakatan mayoritas yang diberikan secara bebas dari rakyat dewasa.

C.F. Strong

Demokrasi adalah Suatu sistem pemerintahan di mana mayoritas anggota dewan dari masyarakat ikut serta dalam politik atas dasar sistem perwakilan yang menjamin pemerintah akhirnya mempertanggungjawabkan tindakan-tindakannya pada mayoritas tersebut.

Hannry B. Mayo

Kebijaksanaan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihan yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana di mana terjadi kebebasan politik.

Merriem

Demokrasi dapat didefinisikan sebagai pemerintahan oleh rakyat; khususnya, oleh mayoritas; pemerintahan di mana kekuasaan tertinggi tetap pada rakyat dan dilakukan oleh mereka baik langsung atau tidak langsung melalui sebuah sistem perwakilan yang biasanya dilakukan dengan cara mengadakan pemilu bebas yang diadakan secara periodik; rakyat umum khususnya untuk mengangkat sumber otoritas politik; tiadanya distingsi kelas atau privelese berdasarkan keturunan atau kesewenang-wenangan.

Samuel Huntington

Demokrasi ada jika para pembuat keputusan kolektif yang paling kuat dalam sebuah sistem dipilih melalui suatu pemilihan umum yang adil, jujur dan berkala dan di dalam sistem itu para calon bebas bersaing untuk memperoleh suara dan hampir seluruh penduduk dewasa dapat memberikan suara.

 

Rakyatlah yang memiliki segala keputusan dan kehendak karena kekuasaan ada pada rakyat, suara rakyat adalah suara Tuhan yang wajib di daulat serta kemenangan dan kebenaran menurut mayoritas suara terbanyak.

(ehh masbro… emang dimana hakikat TUHAN dimata loo…??  apa hakikat kebenaran menurut loo…?? )

Renungan pagi… buat diri sendiri

Jawaban dokter muslim atas vaksinasi imunisasi


Setelah tuntas membaca dan mengkaji, Alhamdulillah keyakinan saya tidak berubah bahkan semakin menguatkan bahwa vaksin modern yang dipergunakan saat ini memang berbahaya.

Bahaya Vaksinasi dan Imunisasi

BAhaya Vaksin

Paragraf di atas adalah sebagian kutipan  tulisan yang beliau katakan di dalam blognya yang akan saya urai ulang di halaman ini . Beliau adalah seorang muslimah dan dokter umum yang telah mengkaji ulang tentang vaksinasi dan imunisasi selama hampir 7 tahun lamanya.

Untuk lebih jelasnya silahkan baca dengan teliti tulisan beliau dibawah ini, cukup panjang tapi insha Allah banyak ilmu yang kita petik…!!

Bismillah. Assalamu’alaykum wa rahmatullah.

Perdebatan pro – kontra vaksin sepertinya kian memanas, mengingat dalam 1 minggu ke depan adalah Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dimana semakin banyak orangtua cerdas memilih uuntuk menghindari vaksin. Berbagai macam alasan para orangtua untuk memilih mengatakan TIDAK UNTUK VAKSINASI, kelompok ini lebih dikenal dengan kelompok kontra vaksinasi sebagai kelompok minoritas. Diantara alas an mereka adalah kekhawatiran akan bahaya vaksin dan dari segi halal/haramnya produk yang digunakan. Sebagai Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tentunya wajar sekali jika isu halal/tidaknya menjadi perhatian khusus para orangtua.

Dan hal tersebut pula yang saya kritisi kepada pihak Biofarma, sebagai produsen vaksin lokal. Dimana sepengetahuan saya bahwa dalam menentukan halal/tidaknya sebuah produk, diwajibkan proses audit dari LPPOM MUI. Namun ternyata, lembaga tersebut tidak pernah mengaudit dan pihak Biofarma mengakui bahwa mereka tidak pernah meminta untuk diaudit. Aneh bukan? Pengakuan ini saya peroleh ketika menghadiri debat pro-kontra imunisasi yang diselenggarakan oleh majalah Ayahbunda di Jakarta.

Dalam 1 minggu menjelang dilaksanakannya PIN, situasi perdebatan semakin memanas. Kemudian muncul sebuah argumentasi yang memojokkan pihak kontra vaksinasi melalui sebuah blog.

Uraian ini bukan untuk menyudutkan siapapun, lebih memberikan ketegasan sikap atas PRINSIP DASAR ALASAN bagi pihak kontra dalam menolak vaksinasi. Saya akan mencoba menjabarkan secara bertahap analisa dan jawaban atas argumentasi di bawah ini.

Dari sebuah blog yang saya baca, menuliskan bahwa “sistem imunisasi/vaksinasi berasal dari dokter-dokter muslim zaman khalifah Turki Utsmani, dan cikal bakalnya sudah ada dari zaman khilafah abbasiyah. Referensi informasi tersebut menurut penuturan si pengirim sumber email ada pada buku “1001 Inventations Muslim Heritage in Our World” page 178. Tertera: “The Anatolian Ottoman Turks knew about methods of vaccination, they called vaccination Ashi. or engrafting, and they had inherited it form older turkic tribes”

Dalam hati, sejujurnya saya terkagum-kagum bahwa begitu hebatnya ilmuwan Islam namun hingga saat ini dunia barat pun masih belum memberikan pengakuan kepada para ilmuwan Islam. Satu kata yang menarik perhatian saya adalah “ENGRAFTING”. Saya memiliki latar belakang pendidikan dokter umum dan kebetulan ayah adalah seorang dokter spesialis bedah, sehingga kata “ENGRAFTING” sudah sering saya dengar sejak beranjak remaja.

Jika merujuk pada kamus kedokteran maka kata tersebut memiliki arti melakukan penanaman pada bagian tubuh, bisa kulit dan sebagainya.

Lalu karena semakin penasaran akan istilah ASHI / ENGRAFTING di jaman tersebut, maka saya telusuri mbah google demi memuaskan keingintahuan. Prinsip dasar saya bahwa ilmu yang diterima haruslah seimbang, dalam arti cek dan ricek adalah penting.

Sebagai kelanjutan kisah terhadap blog tersebut, maka mari kita lanjutkan hingga selesai uraian tersebut yah.

“Informasi berikutnya adalah Lady Mary Wortley Montagu (1689- 1762), istri dari duta besar Inggris untuk Turki saat itu, membawa system vaksinasi ke Inggris untuk memerangi smallpox, tapi ditolak oleh pemerintahan Inggris saat itu.

Untuk informasi mengenai Lady Mary ini, bisa juga dibaca di: www/.psychologytoday.com/blog/child-myths/200909/lady-mary-wortley-montagucontributor-public-health

Berikut kutipan tulisan pada URL tersebut:

“Lady Mary Wortley Montagu was a pretty girl until she had smallpox at age 26 and was left with many pitted scars on her face and no eyelashes. Her only brother died of the disease. Despite her disfigurement, Lady Wortley Montagu recovered her health and energy. (And we should remember that plenty of other people had smallpox scars on their faces at that time, so the impact was not exactly what it would be if someone today had the same appearance.) With her husband, who was the British Ambassador to Turkey, and their little son and daughter, she traveled to what was then part of the Ottoman Empire.

She watched with interest as Turkish women carried out a method of inoculation for smallpox. This she described in letters to her family back in England. The Turks waited until cool fall weather came after the heat of the summer was over. They inoculated children by using the purulent matter from the sores of a person who had become infected with smallpox. Cutting into 5 or 6 veins (on the legs or upper parts of the arms), they poked the smallpox matter into the incision and then bandaged the site. The children seemed fine for some days, developed a fever for a few more days, and then generally recovered — immune to smallpox. Lady Wortley Montagu decided to have her own young son inoculated, accepting the fact that a small number of children were harmed by the inoculation, and he recovered well— immune to smallpox. Returning to England, Lady Wortley Montagu began efforts at public education about inoculation. Her friendship with the then Princess of Wales, later Queen Caroline, was a great support to her work (although it’ s probably the case that Lady Mary could have accomplished more if she’d had fewer boyfriends, who didn’t seem to mind the lack of eyelashes). Because of these efforts, the British public was prepared to pay attention 30 years later when Edward Jenner published his evidence about smallpox vaccination.”

Semakin penasaran dengan kisah diatas, maka saya telusuri lebih jauh tentang smallpox, Edward jenner dan ashi Turkic tribes. Pencarian akhirnya membuat saya menemukan link ini http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1200696/ dimana dalam link ini merupakan jurnal ilmiah akan sejarah Edward Jenner sebagai penemu vaksin cacar air/smallpox.

Dalam pengkajian lebih lanjut, semakin memperkuat keyakinan saya bahwa vaksin saat ini dengan teknologi modern memang berbahaya tidak hanya bagi orangtua namun juga bagi bayi dan anak-anak.

BEBERAPA ALASAN TIDAK MENGGUNAKAN VAKSIN UNTUK IMUNISASI

Prinsip dasar ASHI atau Inokulasi pada jaman itu hampir sama dengan prinsip vaksinasi alamiah yang masyarakat lakukan terhadap campak. Tentunya ayah bunda pernah mendengar anjuran banyak pihak bahwa jika ada yang sakit campak, maka biarkanlah anak kita tertular dengan demikian anak akan memiliki antibody terhadap penyakit tersebut dengan sendirinya.

Nah ASHI, memang memaparkan penyakit terhadap orang sehat dengan cara melakukan sayatan pada kulit daerah subkutan dan memberikan bagian dari cacar air kedalamnya. Mirip namun tak sama.

Kemudian bisa dibaca pula uraian mengenai peran wanita tersebut diatas dalam dunia kesehatan masyarakat pada link ini eurpub.oxfordjournals.org/content/18/4/353.full

Setelah tuntas membaca dan mengkaji, Alhamdulillah keyakinan saya tidak berubah bahkan semakin menguatkan bahwa vaksin modern yang dipergunakan saat ini memang berbahaya.

Mereka telah salah memahami bahwa penolakan kami adalah pada prinsip vaksinasinya. Padahal, penolakan kami adalah penggunaan bahan kimia yang berbahaya didalam vaksin modern tersebut. Jika dianalisa dari tindakan vaksinasi “kuno”, bisa kita pahami bahwa jaman itu mereka TIDAK menggunakan bahan-bahan kimia seperti merkuri, garam alumunim, atau bahkan menggunakan media hewan haram dalam proses pengembangbiakkan kuman/virus.

Bagaimanapun dalam hati kecil saya saat membaca dan mencari tahu lebih jauh, berpegangan pada prinsip bahwa seorang MUSLIM akan menghindari penggunaan bahan haram dan berbahaya. Dan itu TERBUKTI.

Untuk mengetahui bagaimana peran garam alumunium dalam tubuh, silakan dibaca penelitian ini dimana garam alumunium yang disuntikkan kedalam tubuh seekor tikus memberikan kerusakan bahkan kehancuran dari sel setiap organ tikus tersebut. Dosis yang digunakan tentunya disesuaikan dengan tubuh tikus tersebut. Lalu bagaimana dengan tubuh seorang bayi yang dilakukan berulang kali?

Buka link dibawah berikut, kisah contoh korban imunisasi

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Relakah Anak Kita Menjadi Tumbal?

Kisah Nyata Dampak Negatif dari Vaksin

Berbagi Pengalaman Kisah Nyata: Imunisasi

Link terhadap penelitian alum atau garam alumunium bisa dibaca disini :

- http://therefusers.com/refusers-newsroom/aluminum-based-adjuvants-cause-cell-death-and-release-of-host-cell-dna/

- http://www.sciencedaily.com/releases/2011/07/110717204910.htm

- http://www.nature.com/nm/journal/v17/n8/full/nm.2403.html

- http://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/21568886/

Link diatas hanyalah mengenai fakta akan bahaya garam alumunium yang digunakan sebagai bahan adjuvant di SEMUA vaksin. Untuk bahan vaksin lainnya, silakan ayah bunda telusuri mbah google dan belajar menganalisa sendiri yaahh..

Mari dilanjutkan uraian dari blog diatas : “Adalagi informasi lainnya. Untuk vaksinasi dasar, Indonesia telah berhasil membuat vaksin sendiri, sudah terbukti uji klinis dan epidemiloginya, bahkan dieskpor untuk kepentingan regional Asia Tenggara, di Biofarma, Bandung.

Masalah yang berkembang dan mencuat belakangan adalah vaksinasi tambahan, termasuk meningitis untuk calon jamaah haji atau vaksin HPV, yang masih diproduksi oleh produsen luar negeri semisal GSK.

*menurut penuturan seorang guru ngaji bahwa kebetulan beliau bekerja di balai POM, sudah ada vaksin meningitis yang halal untuk calon jemaah haji*”

Mengenai vaksin meningitis, ayah bunda bisa baca sendiri di harian Republika edisi Jumat tanggal 14 Oktober 2011. Vaksin tersebut bahkan baru-baru ini kembali dikritisi oleh Mantan Menkes Siti Fadhillah Sapari bahwa semua vaksin tersebut tetap mengandung bahan haram alias babi. So, menurut saya dalam mencari sebuah informasi bukan sekedar berbicara dengan seseorang yang ilmunya terbatas.

Alhamdulillah informasi ini saya dapatkan LANGSUNG dari bu DR. dr Siti Fadhillah Sapari, SpJK (K) sebagai mantan menkes lohh.. Ditambah dengan pengakuan dari Biofarma bahwa mereka TIDAK PERNAH diaudit oleh pihak yang berwenang dan dalam hal ini adalah LP POM MUI.

Kalimat terakhir yang mendorong saya untuk meluruskan informasi dari blog tersebut adalah pernyataan bahwa seseorang yang bukan berasal dari kedokteran sebagaimana tertulis demikian “apalagi kalau munculnya dari orang-orang yang bukan ahlinya, atau bahkan ga punya background pendidikan kedokteran sama sekali.”

Buat saya, seorang dokter atau bukan – ia punya kemampuan untuk BELAJAR dari siapapun. Gelar dan sebagainya bukan jaminan bahwa individu tersebut akan berkata benar. Belajar adalah kata kunci yang luar biasa. Bahkan Rasulullah shalallahu alayhi wa salam menyuruh kita untuk tidak taqlid atau belajar seperti kerbau dicucuk hidungnya, dimana apapun perkataan seseorang yang dianggap pintar langsung dijadikan hukum tanpa mempelajari lebih jauh. Dan Alhamdulillah informasi yang saya terima justru berasal dari sosok-sosok yang memiliki kompetensi tinggi, seperti DR. dr. Siti Fadhillah Sapari, SpJK(K) dan Prof. DR. Hasyim dari LP POM MUI.

Kritikan tajam saya tujukan pada kalimat ini “sorry to say, maap- maap yeee kalo agak kasar, menurut saya, orang tua yang menganggap tidak mengimunisasi anaknya adalah pilihan terbaik dan adalah hak dia untuk memilih untuk tidak mengimunisasi adalah orang tua yang LUPA, lupa bahwasanya ada HAK ORANG LAIN untuk merasa aman dari ancaman penyakit yang mematikan.”

Sebagai seorang dokter, saya memahami dengan baik bahwa jika kuman yang disuntikkan dalam tubuh seseorang dengan daya tahan tubuh yang menurun maka kuman/virus tersebut menjadi aktif bahkan menginfeksi tubuh yang menerima vaksin tersebut. Dalam hal ini, siapakah yang berjalan-jalan membawa bahan penyakit dan memiliki resiko memberikan penularan kepada anak lainnya yang sehat? Sehat tanpa bahan kimia, sehat karena ibunya memberikan pengobatan ala Rasulullah shalallahu alayhi wasalam?

Ditambah lagi pengakuan dari salah seorang karyawan Biofarma bahwa penyimpanan vaksin tersebut di beberapa wilayah pelosok Indonesia TIDAK MEMENUHI STANDAR, sehingga kemungkinan vaksin rusak atau terkontaminasi sangat besar.

Kembali pada kisah di blog tersebut “mau ngutip kalimat temennya ayah, beliau punya background pendidikan kedokteran dan sedang mengambil jenjang spesialis, aaahh:

“ﻪّﻠﻟَﺍ sdh Mengaruniakan akal buat kita, ilmu pengetahuan manusia sudah tahu tentang vaksinasi, kampanye sudah dijalankan, digratiskan lagi oleh pemerintah. Secara rasional, ga ada alasan lagi untuk ga vaksinasi jadi, anggapan bahwa imunisasi / vaksinasi berasal dari kedokteran barat yang penuh konspirasi untuk melemahkan umat muslim, gimana?”

Sebagai seorang dokter, walaupun dokter umum, satu hal yang saya ketahui bahwa pribadi muslim diberikan akal dan pikiran pertama kali yang dilakukannya adalah MEYAKINI AYAT-AYAT ALLAH dan RASULNYA. Selanjutnya baru kewajiban untuk mengkaji dan telaah.

Saya dan barisan orangtua kontra vaksin kimia telah memilih ASI sebagai vaksin alami, karena kami meyakini QS. AL BAqarah : 233 dan dari ayat tersebut kami kaji lebih jauh. Saya pribadi membutuhkan waktu 7 tahun untuk meyakini bahwa inilah maksud dari ayat Allah subhanahu wa ta’ala itu, bahwa ASI adalah VAKSIN ALAMI bagi setiap anak manusia yang lahir di muka bumi.

Bukti ilmiahnya apa? Silakan membaca pada link dibawah ini, bahwa dr Albert Sabin pada awal merintis percobaan vaksin polio – beliau menggunakan kolostrum manusia dan sapi sebagai obat. Jurnal ini menunjukkan bahwa hewan yang terinfeksi oleh polio, 84% sembuh dengan pemberian kolostrum.

http://pediatrics.aappublications.org/content/29/1/105.full.pdf+html

Pada bagian akhir penulis menyampaikan, “Silahkan menilai dan menjawab sendiri yaaaa”

Maka saya menjawab, “Betul sekali. Mari silakan menilai, megkaji dan menjawab sendiri. Kebenaran hanyalah milik Allah subhanahu wa ta’ala semata dan kelemahan adalah dalam diri saya sebagai penulis. BELAJAR dan DO’A untuk mendapatkan cahaya kebenaran. Semoga ayah bunda tidak membutuhkan waktu selama 7 tahun seperti saya dalam meyakini kebenaran tersebut.”

Sekali lagi bukanlah sekedar halal/haram semata namun bahan kimia didalam vaksin tersebutlah yang mendorong kami untuk mengatakan dengan lantang “NO TO VACCINE”.

sumber asli : http://drhennyzainal.wordpress.com/2011/10/17/jawaban-terhadap-uraian-vaksinasi-pertama-kali-olh-dokter-muslim/

Info Kontak

Twitter dr Henny Zainal

Facebook dr Henny Zainal

Blog Kompasiana dr Henny Zainal

Bersikap adil-lah terhadap sesama muslim atas kesalahan dan kedzalimannya


Bersikaplah yang adil…. jangan sampai kebencian kita kepada seseorang hingga melupakan kebenaran..!!

Bersikap adil terhadap sesama muslim, jangan membabibuta atas kesalahan dan kedzalimannya, tempatkanlah sesuatu sesuai dengan kadarnya dan kritislah terhadap diri sendiri…

“Jika ternyata ada orang kafir yang menganggap kita sebagai teman berlemah lembut dengannya dan tidak menganggap kita sebagai musuh” jangan-jangan ada yang salah dengan Ke Islaman diri kita…

Membela habis-habisan setiap keburukannya dan bahkan menutupinya dengan dalih pembenaran… tapi

Bahkan sebaliknya kita keras terhadap sesama muslim dengan mudahnya menuduh dengan perkataan yang buruk terhadapnya… Membongkar habis semua aibnya kepada seluruh manusia dan mencongkel-congkel sesuatu yang tidak ada padanya…

Allah berfirman:

“Ta’atilah Allah Swt dan RasulNya; maka jika mereka berpaling, maka sesungguhnya Allah Swt tidak menyukai orang-orang kafir” (Ali imron 32)

“Kamu tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling kasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang orang itu bapak-bapak, anak-anak sauadara-saudara ataupun saudara keluarga mereka.” (QS. Al-Mujadalah:22)

Jika Allah saja tidak menyukainya lalu bagaimana mungkin kita akan berkasih sayang dan berlemah lembut dengannya..??

Kenapa demikian, karena Allah berfirman:

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk disisi Allah ialah orang-orang kafir, karena mereka itu tidak beriman.”   [QS. Al-Anfaal: 55]

Baca lebih lanjut

Antara Toleransi Beragama, Dakwah Islam Dulu dan Kini


agama toleransiToleransi beragama bukanlah hal baru yang di usung para aktifis masa kini, bahkan toleransi beragama adalah sebuah agama (keyakinan) yang telah ada sebelum para Rasul di utus. Seluruh manusia bersatu dalam perbedaan dan kedamaian yaitu persatuan di atas kesyirikan yang bathil.

Maka datanglah Islam yang menyeru mereka pada kebenaran untuk meng-esa-kan Allah, maka Islam pun dituduh sebagai agama perusak yang telah mencerai beraikan persatuan dan kedamaian mereka.

Jika kita lihat wajar saja para musyrikin menganggap demikian, karena Islam telah meruntuhkan keyakinan mereka di atas tuhan-tuhan yang banyak dan harus tunduk pada tuhan yang esa, dan inilah akidah Islam yang shahih di atas kebenaran dimana meng-esa-kan Allah adalah konsekwensi dari ucapan dan keyakinan Laa Ilaha Illallah barangsiapa meyakini Islam sebagai agamanya maka hendaklah ia mengetahui (meng-ilmui) makna dan kandungan serta konsekwensi dari ucapannya.

Indonesia saat ini tidak jauh berbeda dengan gambaran orang-orang musyrik terdahulu Baca lebih lanjut

Ebook Tafsir Ibnu Katsir 30 Juz lengkap Pdf dari berbagai server Gratis Ringkas


Saya bagikan link Tafsir Ibnu Katsir ini dari beberapa sumber dengan pembagian per Juz atau Surah

Tapi saya sediakan juga link bundel Tafsir Ibnu Katsir ini dibawah hanya menjadi 2 part (2 file) silahkan di download

Ebook Tafsir Ibnu Katsir 30 Juz Lengkap

Baca lebih lanjut

Download Ebook Terjemah Bulughul Maram


Ebook bulughul maramBulughul Maram merupakan salah satu karya fenomenal dari al Hafizh Ibnu Hajar al Asqolany setelah syarah (penjelasan) Shahih Bukhari yang dikenal dengan Fathul Baari. Kitab ini beliau tulis berdasarkan hafalan beliau tanpa melihat kepada kitab aslinya.

Sungguh mulia beliau menghafal ribuan hadits lalu mengajarkannya. Begitupun hingga kini berapa banyaka ulama yang telah dan sedang mengajarkan kitab ini kepada kaum muslimin.

Download

Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.293 pengikut lainnya.